SDN Sudirman kembali merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Momen ini selalu menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan, baik oleh murid maupun guru. Bulan Agustus menjadi bulan yang sibuk sekaligus menyenangkan. Drum band, jalan santai, serta berbagai perlombaan di tingkat sekolah, kecamatan, hingga kabupaten turut mewarnai hari-hari kami.

Di antara berbagai kegiatan tersebut, perlombaan murid menjadi salah satu yang paling ditunggu. Tahun ini, sekolah kami mengadakan lomba makan kerupuk, pecah air, voli sarung, bola berantai, dan berbagai permainan lainnya. Mungkin ada yang bertanya, “Lombanya itu-itu saja. Memangnya edukatif?”

Bagi kami, persoalannya bukan sekadar jenis lomba, melainkan tujuan dan makna di baliknya. Murid perlu memperoleh ruang untuk menjalani masa kanak-kanak melalui kegiatan yang menyenangkan, aktif, dan konkret. Hal ini sejalan dengan teori perkembangan kognitif Piaget dan Inhelder (1969) yang menjelaskan bahwa murid sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, yaitu sekitar usia 7–11/12 tahun. Pada tahap ini, mereka mulai mampu berpikir logis terhadap objek dan pengalaman yang konkret. Karena itu, kegiatan bermain, bergerak, berkompetisi, dan bekerja sama bukanlah kegiatan yang berlawanan dengan pendidikan. Justru melalui pengalaman nyata tersebut, murid dapat belajar tentang aturan, sportivitas, kerja sama, keberanian untuk mencoba, kemampuan menerima kekalahan, serta ketangguhan untuk tidak mudah menyerah. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian Supriyana dan Lestari (2023) menunjukkan bahwa peringatan hari besar nasional dan kegiatan perlombaan di sekolah dasar dapat menjadi bagian dari penguatan karakter nasionalis, patriotisme, kebersamaan, dan persatuan.

Dalam konteks inilah, kisah “Parikesit Jumeneng Nata” menjadi relevan dengan realitas saat ini. Setelah Perang Baratayuda berakhir, Pandawa meninggalkan Ngastina dan takhta kemudian diwariskan kepada Parikesit, cucu Arjuna dan putra Abimanyu. Parikesit merupakan generasi yang tidak mengalami seluruh perjuangan dalam Perang Baratayuda, tetapi menerima hasil sekaligus tanggung jawab dari perjuangan generasi sebelumnya. Ia tidak lagi diminta untuk memenangkan perang, tetapi harus melanjutkan kehidupan dan menjaga negara yang telah diwariskan kepadanya. Demikian pula dengan murid-murid kita. Mereka tidak diminta untuk mengangkat senjata atau mengulangi bentuk perjuangan para pahlawan di masa lalu. Namun, mereka menerima kemerdekaan sebagai sebuah warisan yang harus dijaga dan diisi melalui tindakan-tindakan yang sesuai dengan zamannya. Dalam konteks pendidikan, pengalaman bermain, berkompetisi, bekerja sama, dan belajar menerima kemenangan maupun kekalahan dapat menjadi bagian kecil dari proses membentuk generasi yang mampu menghargai, menjaga, dan meneruskan warisan perjuangan tersebut.

Analogi ini dekat dengan kehidupan murid-murid di negara Indonesia. Mereka tidak mengalami perjuangan bersenjata untuk merebut kemerdekaan. Mereka lahir sebagai generasi yang menikmati hasil perjuangan para pahlawan. Namun, bukan berarti perjuangan mereka selesai. Perjuangan generasi sekarang memang berbeda. Jika dahulu para pahlawan berjuang menghadapi penjajahan dengan mempertaruhkan jiwa dan raga, murid-murid hari ini berjuang melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka: belajar ketika sulit, berani mencoba ketika belum mampu, bangkit ketika gagal, bekerja keras, mampu bekerja sama, dan tetap optimis.

Karena itu, lomba bukan sekadar permainan. Ia dapat menjadi pengalaman kecil tentang perjuangan. Murid yang gagal lalu mencoba kembali sedang belajar kegigihan. Murid yang kalah tetap memberi selamat kepada pemenang sedang belajar sportivitas. Murid yang berjuang bersama tim sedang belajar bahwa keberhasilan tidak selalu dicapai seorang diri.

Maka, persoalannya bukanlah lomba makan kerupuk itu sendiri. Esensinya adalah jangan sampai makna kemerdekaan berhenti ketika kerupuk habis dan hadiah dibagikan. Kerupuk boleh habis, lomba boleh selesai. Namun, semoga murid membawa pulang sesuatu yang lebih penting: semangat untuk berusaha, keberanian menghadapi kegagalan, kegigihan untuk mencoba kembali, dan optimisme dalam meraih masa depan.

Seperti Parikesit yang menerima warisan dari para pendahulunya, Pandhawa, murid-murid kita pun menerima negara ini sebagai warisan perjuangan para pahlawan. Mereka tidak lagi diminta untuk mengangkat senjata seperti para pejuang di masa lalu. Namun, bukan berarti perjuangan telah berakhir. Mereka tetap memiliki tanggung jawab untuk berjuang dengan cara mereka sendiri: menjaga, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan yang telah diwariskan kepada mereka.

Karena itu, maaf, ini tak sekedar makan kerupuk!